Text
Spiritualitas Haji Integralistik Karakter Muslim dalam Ritual Haji Perspektif Al-Qur'an
Dalam perspektif Al-Qur'an ibadah haji yang dibarengi dengan pengamalan dimensi spiritual membuahkan martabat muhsin. Hal ini didasarkan pada deskripsi ayat-ayat haji, yang mengisyaratkan bahwa dalam pelaksanaan ibadah haji terdapat hubungan horizontal, yaitu adanya interkoneksi dan interaksi harmonis antara manusia dengan dirinya (habl ma'a nafsih), manusia dengan sesama manusia (habl ma'a an nâs) manusia dengan alam sekitar (habl ma'a bî'atih) termasuk cinta dengan Negaranya (hubbul wathon) dan utamanya hubungan vertikal manusia dengan Allah (habl ma'a Allâh).
Dari perspektif Al-Qur'an ditemukan tiga martabat haji; 'Ulul albâb (orang yang berakal), al-mukhbitin (orang yang berserah diri) dan al- muhsinîn (orang yang berbuat kebaikan), dan satu gelar lagi dari Nabi Muhammad Saw. yaitu mabrûr (haji yang diterima), dari keempat martabat haji tersebut yang memiliki nilai tertinggi adalah muhsin, penyandangnya dianggap identik dengan insan kamil (manusia sempurna), sebab status muhsin merupakan sifat para Nabi dan sebagai martabat tertinggi dalam Islam.
Haji yang dilakukan secara fikih ansich, pelakunya akan mendapatkan output (hasil akhir) haji saja, sedangkan haji yang dilaksanakan secara fikih dibarengi dengan mengamalkan dimensi spiritual haji (tasawuf), pelakunya akan mendapatkan haji sebagai output plus martabat muhsin sebagai outcome. Hal ini didasarkan pada perspektif Al-Qur'an, yang sejalan dengan konsep Tasawuf Modern, bahwa haji yang dilaksanakan secara fikih dan tasawuf merupakan pengamalan Iman, Islam dan Ihsan, yang ujungnya membuahkan martabat muhsin sebagai outcome. Dan inilah makna haji yang sejatinya.
Tidak tersedia versi lain